Pertanyaan fundamental mengenai ibadah seringkali muncul, salah satunya adalah: apakah shalat tarawih bisa dilakukan 4 rakaat sekali salam? Ibadah tarawih, yang menjadi ciri khas bulan Ramadhan, menawarkan kesempatan istimewa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pelaksanaannya yang penuh keutamaan, berdasarkan dalil-dalil dari Al-Quran dan Hadis, menjadi daya tarik tersendiri bagi umat Muslim. Shalat tarawih tidak hanya menjadi sarana peningkatan spiritualitas, tetapi juga mempererat tali silaturahmi saat dilakukan secara berjamaah di masjid atau mushola.
Dalam artikel ini, akan dibahas secara mendalam mengenai seluk-beluk shalat tarawih, mulai dari pengertian dasar, tata cara pelaksanaan, hingga perbedaan pendapat yang ada. Fokus utama adalah menelaah secara komprehensif mengenai praktik shalat tarawih 4 rakaat sekali salam, termasuk pandangan ulama, dalil-dalil yang digunakan, serta panduan praktis bagi yang ingin mengamalkannya. Pemahaman yang baik terhadap aspek-aspek ini diharapkan dapat memberikan pencerahan dan panduan bagi umat Muslim dalam menjalankan ibadah tarawih dengan benar dan sesuai tuntunan agama.
Shalat Tarawih: Memahami Ibadah Malam Ramadhan: Apakah Shalat Tarawih Bisa Dilakukan 4 Rakaat Sekali Salam
Shalat tarawih adalah salah satu ibadah yang sangat dianjurkan selama bulan Ramadhan. Ibadah ini menjadi momen yang dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia, sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai shalat tarawih, mulai dari pengertian dasar, tata cara pelaksanaan, hingga perbedaan pendapat terkait pelaksanaannya.
Pemahaman yang komprehensif tentang shalat tarawih akan membantu umat Muslim dalam menjalankan ibadah ini dengan lebih baik dan khusyuk, serta menghindari kesalahpahaman yang mungkin timbul.
Temukan lebih dalam mengenai proses hukum mencicipi masakan saat puasa di lapangan.
Pemahaman Dasar Shalat Tarawih, Apakah shalat tarawih bisa dilakukan 4 rakaat sekali salam
Shalat tarawih secara sederhana adalah shalat sunnah yang dikerjakan pada malam hari di bulan Ramadhan setelah shalat Isya hingga menjelang waktu Subuh. Kata “tarawih” berasal dari bahasa Arab “tarwihatun” yang berarti istirahat. Dinamakan demikian karena pada pelaksanaannya, terdapat jeda istirahat setelah setiap dua atau empat rakaat.
- Waktu Pelaksanaan dan Keutamaan: Shalat tarawih dilaksanakan setelah shalat Isya dan sebelum waktu Subuh. Keutamaan shalat tarawih sangat besar, di antaranya adalah pengampunan dosa-dosa yang telah lalu, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.
- Dalil-dalil:
- Al-Quran: Tidak ada ayat spesifik dalam Al-Quran yang secara langsung menyebutkan shalat tarawih. Namun, terdapat anjuran untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah.
- Hadis: Beberapa hadis yang menjadi dasar pelaksanaan shalat tarawih, di antaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW melaksanakan shalat tarawih berjamaah di masjid.
- Jumlah Rakaat dan Variasi: Jumlah rakaat shalat tarawih yang umum dilakukan adalah 8 atau 20 rakaat, ditambah dengan shalat witir. Namun, terdapat variasi lain, seperti 11 rakaat (termasuk witir).
- Perbandingan dengan Shalat Sunnah Lainnya: Shalat tarawih memiliki keutamaan khusus karena dikerjakan pada bulan Ramadhan. Shalat sunnah lainnya, seperti shalat tahajud, juga memiliki keutamaan, tetapi tidak terkait langsung dengan bulan Ramadhan.
- Shalat Tarawih Berjamaah dan Munfarid: Shalat tarawih dapat dilakukan secara berjamaah di masjid atau di rumah, serta dapat dilakukan secara munfarid (sendiri). Shalat berjamaah lebih utama karena pahala yang diperoleh lebih besar.
Tata Cara Shalat Tarawih: Rakaat dan Salam
Tata cara shalat tarawih pada dasarnya sama dengan shalat sunnah lainnya, namun terdapat beberapa perbedaan dalam niat dan bacaan surat yang disunnahkan.
- Tata Cara Shalat:
- Niat: Niat shalat tarawih adalah “Ushalli sunnatat-tarawihi rak’ataini lillahi ta’ala” (Saya niat shalat sunnah tarawih dua rakaat karena Allah ta’ala).
- Takbiratul Ihram: Mengangkat kedua tangan sejajar telinga sambil mengucapkan “Allahu Akbar.”
- Membaca Doa Iftitah.
- Membaca Al-Fatihah.
- Membaca Surat: Membaca surat pendek dari Al-Quran.
- Ruku’: Membungkukkan badan dengan sempurna, kedua tangan memegang lutut, membaca tasbih.
- I’tidal: Berdiri tegak setelah ruku’, membaca doa i’tidal.
- Sujud: Sujud dengan meletakkan dahi, hidung, kedua telapak tangan, lutut, dan ujung kaki di lantai, membaca tasbih.
- Duduk di antara dua sujud: Duduk di antara dua sujud, membaca doa.
- Sujud kedua: Sujud kedua, membaca tasbih.
- Berdiri untuk rakaat kedua: Mengulangi gerakan dari membaca Al-Fatihah hingga sujud kedua.
- Tasyahud Akhir: Duduk tasyahud akhir setelah selesai rakaat kedua, membaca doa tasyahud.
- Salam: Mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri.
- Urutan Bacaan: Setelah membaca Al-Fatihah, disunnahkan membaca surat-surat pendek dari Al-Quran. Pada rakaat pertama, misalnya, bisa membaca surat At-Takatsur, dan pada rakaat kedua membaca surat Al-Kafirun.
- Ilustrasi Visual:
Ilustrasi gerakan shalat tarawih per rakaat:
Rakaat Pertama: Dimulai dengan takbiratul ihram, dilanjutkan dengan membaca doa iftitah, Al-Fatihah, dan surat pendek, kemudian ruku’, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua.
Rakaat Kedua: Berdiri dan mengulangi gerakan seperti rakaat pertama, namun pada tasyahud akhir ditambahkan doa tasyahud dan salam.
- Perbedaan Pendapat: Perbedaan pendapat mengenai jumlah rakaat shalat tarawih berkisar antara 8 dan 20 rakaat.
- Tabel Perbandingan Pendapat Ulama:
Pendapat Dalil Jumlah Rakaat Referensi 8 Rakaat + Witir Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim (tentang shalat malam Rasulullah SAW) 8 + 3 Imam Malik, Imam Syafi’i 20 Rakaat + Witir Praktik sahabat dan ulama generasi awal Islam 20 + 3 Ulama Madzhab Hanafi, sebagian ulama Madzhab Syafi’i
Hukum Melakukan Shalat Tarawih 4 Rakaat Sekali Salam

Perdebatan mengenai boleh tidaknya shalat tarawih dengan 4 rakaat sekali salam merupakan topik yang menarik dalam kajian fiqih. Perbedaan pandangan ini didasarkan pada interpretasi terhadap dalil-dalil yang ada.
- Pandangan Ulama: Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hal ini. Sebagian ulama membolehkan, sebagian lainnya tidak.
- Dalil-dalil:
- Ulama yang membolehkan: Berpegang pada keumuman dalil tentang shalat sunnah yang boleh dikerjakan dengan dua atau empat rakaat.
- Ulama yang tidak membolehkan: Berpegang pada hadis yang menjelaskan tentang shalat malam yang dilakukan dua rakaat-dua rakaat.
- Contoh Kasus: Contoh kasus yang memungkinkan adalah ketika seseorang merasa kesulitan untuk terus menerus melakukan salam setiap dua rakaat karena alasan kesehatan atau kondisi tertentu.
- Argumen:
- Mendukung: Shalat tarawih 4 rakaat sekali salam memudahkan sebagian orang, selama memenuhi syarat sah shalat.
- Menentang: Pelaksanaan 4 rakaat sekali salam dianggap menyelisihi sunnah Rasulullah SAW yang lebih utama.
- Kutipan Ulama:
“Pada dasarnya, shalat sunnah boleh dikerjakan dengan dua atau empat rakaat, namun yang lebih utama adalah mengikuti sunnah Rasulullah SAW.” – (Contoh kutipan dari ulama terkemuka, sumber akan ditambahkan)
Panduan Praktis: Melakukan Shalat Tarawih 4 Rakaat Sekali Salam

Bagi mereka yang memilih untuk melaksanakan shalat tarawih dengan 4 rakaat sekali salam, terdapat beberapa panduan praktis yang perlu diperhatikan agar ibadah tetap sah dan khusyuk.
- Panduan Langkah-langkah:
- Niat: Niatkan shalat tarawih dua rakaat (karena setiap dua rakaat dianggap sebagai satu salam).
- Lakukan shalat dua rakaat pertama: Sesuai tata cara shalat pada umumnya.
- Duduk tasyahud awal setelah rakaat kedua.
- Berdiri dan lanjutkan shalat dua rakaat berikutnya: Dengan tata cara yang sama.
- Duduk tasyahud akhir dan salam: Setelah selesai empat rakaat.
- Tips Kekhusyukan:
- Fokus pada bacaan dan gerakan shalat.
- Hindari pikiran yang mengganggu.
- Perbanyak doa dan dzikir.
- Doa Setelah Salam: Setelah salam pada setiap empat rakaat, bisa membaca doa-doa yang dianjurkan, seperti doa memohon ampunan dan keberkahan.
- Hal yang Perlu Diperhatikan: Pastikan semua rukun dan syarat shalat terpenuhi.
- Konsekuensi Kesalahan: Jika terjadi kesalahan dalam melakukan shalat, misalnya lupa tasyahud awal, maka shalat tetap sah selama kesalahan tersebut tidak membatalkan shalat.
Perbedaan Pendapat dan Toleransi dalam Beribadah
Menghargai perbedaan pendapat dalam ibadah merupakan prinsip penting dalam Islam. Hal ini mendorong persatuan dan kesatuan umat, serta memperkaya khazanah keislaman.
Anda dapat memperoleh pengetahuan yang berharga dengan menyelidiki penyebab pesantren tutup dan cara menambah santri.
- Pentingnya Toleransi: Perbedaan pendapat dalam ibadah adalah hal yang wajar. Toleransi diperlukan agar tidak terjadi perpecahan.
- Contoh Sikap Toleransi:
- Menghormati pilihan orang lain dalam melaksanakan shalat tarawih, baik 8 maupun 20 rakaat.
- Tidak saling menyalahkan atau menghakimi.
- Saling mengingatkan dengan cara yang baik.
- Pesan Persatuan: Umat Islam harus saling menghormati dan menjaga persatuan, meskipun terdapat perbedaan dalam praktik ibadah.
- Memperkaya Khazanah Keislaman: Perbedaan pendapat dapat memperkaya khazanah keislaman, karena menunjukkan keluasan ajaran Islam.
- Sumber Informasi:
- Kitab-kitab fiqih dari berbagai madzhab.
- Website dan artikel dari ulama terpercaya.
- Kajian-kajian agama yang disampaikan oleh ustadz/kyai yang kompeten.
Penutupan

Setelah menyelami berbagai aspek terkait shalat tarawih, termasuk perdebatan mengenai pelaksanaan 4 rakaat sekali salam, menjadi jelas bahwa perbedaan pendapat adalah keniscayaan dalam khazanah keislaman. Kunci utama adalah memahami dalil-dalil yang mendasari, menghargai perbedaan, dan tetap berpegang teguh pada prinsip toleransi. Praktik shalat tarawih 4 rakaat sekali salam, meskipun ada perbedaan pendapat, tetap sah selama memenuhi syarat dan rukun yang telah ditetapkan. Dengan demikian, diharapkan umat Muslim dapat menjalankan ibadah tarawih dengan penuh keyakinan, tanpa merasa ragu, serta senantiasa menjaga persatuan dan ukhuwah islamiyah.




